Oleh Meti Herawati
Tanpa terasa sang waktu terus berjalan menyusuri relung-relung kehidupan, banyak yang sudah berubah dalam waktu sepuluh tahun. Ibarat umur manusia usia sepuluh tahun adalah masa kanak-kanak yang berhiaskan canda dan tawa dalam kehidupannya sekaligus masih memerlukan perlindungan orang tuanya.
Begitu pun usia perkawinan Kami sudah atau baru genap sepuluh tahun, masih anak bawang yang perlu banyak belajar terus untuk tetap tegar mengarungi bahtera rumah tangga, banyak cerita yang sudah Kami lalui berdua, banyak kebahagian, ada juga hiasan kesedihan dan nestapa.
Di usia sepuluh tahun ini banyak pelajaran yang bisa kami petik, baik dari pengalaman pribadi Kami sendiri maupun orang-orang di sekitar Kami. Menjadi pasangan suami istri sampai sekarang tidak ada mata kuliahnya sehingga Kita dituntut untuk belajar sendiri dari lingkungan dan tentunya dari risalah para nabi.
Di usia sepuluh tahun ini Saya merenungi beberapa hikmah yang bisa diambil dari perjalanan rumah tangga Kami yang Alhamdulillah sampai sejauh ini bisa berjalan dengan baik walaupun ada terpaan ujian, semua bisa dilalui walau terkadang dengan uraian air mata.
Pelajaran pertama yang Saya dapat bahwa ketika kita memutuskan untuk menikah, maka yang utama adalah luruskan niat kita untuk semata-mata mencari keridhoan Allah. Hal ini akan membingkai proses pernikahan Kita dari mulai memilih pasangan, menetapkan cara mendapatkan pasangan sampai dengan mengisi pernikahan tersebut. Banyak yang salah kaprah dan melanggar syariat karena dari awal niatnya tidak suci.
Alhamdulillah Kami bisa mengawali langkah menuju gerbang pernikahan dengan niat baik dan ternyata Kami diberikan kemudahan untuk menempuh jalan yang terbaik. Ketika Saya memutuskan tidak mau mengawali pernikahan dengan pacaran banyak yang mencibir dan menganggap Saya sebagai makhluk orthodox yang sangat ketinggalan zaman, bahkan ada juga yang menganggap Saya frustasi karena belum dapat pacar juga.
Watch and read full article...