Tinggalkan anak demi islam

Meski pedih, ia hancurkan rasa cinta kepada dua putranya tersayang, karena Kavita lebih memilih cintanya kepada Islam


Hidayatullah.com--Namaku dulu adalah Kavita, dan nama panggilanku Poonam. Setelah memeluk Islam, aku bernama Nur Fatima. Usiaku 30-an tahun. Tapi aku merasa baru berumur lima tahun, karena pengetahuanku tentang Islam tidak melebihi pengetahuan anak usia 5 tahun.


Aku dulu bersekolah di Mumbai, di sebuah sekolah yang cukup besar khusus untuk anak-anak dari keluarga bangsawan. Kemudian aku melanjutkan pendidikan ke Universitas Cambridge. Setelah menyelesaikan program master, aku mengambil banyak kursus komputer.
Watch and read full article...

Anak Jalanan, dewasa bersama Islam

Awal hidupnya ia jalani dengan kekacauan, namun hatinya tidak pernah menolak kebenaran. Akhirnya ia pun menemui makna hidup bersama Islam

Hidayatullah.com--Namaku sekarang Abdullah Abdul-Malik, dilahirkan, dibesarkan, dan tinggal di Amerika Serikat. Usiaku 28 tahun. Aku sudah menjadi Muslim selama hampir 5 tahun.

Aku dibesarkan di sebuah lingkungan yang elok di Philadelphia, Pennsylvania. Aku suka bermain sepakbola di waktu kecil. Sebagaimana seorang remaja Amerika, aku senang mendengarkan musik rap dan menonton film-film yang penuh adegan kekerasan. Ketika itu aku yakin bahwa hidup memanglah seperti itu.
Watch and read full article...

Yang Bisa Menuntun ke Surga

Mereka lebih dahulu masuk surga, dan hisab mereka di akhirat lebih ringan dibanding lainnya

Hidayatullah.com--Usai bincang-bincang di salah satu radio di Surabaya, Bu Eep dan Zainab siap menjemputku dengan motor ke Kecamatan Medokan, Surabaya. Di pagi yang masih berkabut itu, aku melewati sebuah empang luas bersebelahan dengan gedung bertuliskan, Gedung Yayasan Kasih.

Di sepanjang jalan kiri dan kanan nampak sederetan rumah-rumah gubuk, petak kecil dengan berdinding triplek (gedek), dan seng diselimuti debu dan nampak kusam. Tak lupa plang-plang bertuliskan jasa ahli pijat atau ahli bangunan terpampang berjejer.
Watch and read full article...

Renungan Sepuluh Tahun

Oleh Meti Herawati

Tanpa terasa sang waktu terus berjalan menyusuri relung-relung kehidupan, banyak yang sudah berubah dalam waktu sepuluh tahun. Ibarat umur manusia usia sepuluh tahun adalah masa kanak-kanak yang berhiaskan canda dan tawa dalam kehidupannya sekaligus masih memerlukan perlindungan orang tuanya.

Begitu pun usia perkawinan Kami sudah atau baru genap sepuluh tahun, masih anak bawang yang perlu banyak belajar terus untuk tetap tegar mengarungi bahtera rumah tangga, banyak cerita yang sudah Kami lalui berdua, banyak kebahagian, ada juga hiasan kesedihan dan nestapa.

Di usia sepuluh tahun ini banyak pelajaran yang bisa kami petik, baik dari pengalaman pribadi Kami sendiri maupun orang-orang di sekitar Kami. Menjadi pasangan suami istri sampai sekarang tidak ada mata kuliahnya sehingga Kita dituntut untuk belajar sendiri dari lingkungan dan tentunya dari risalah para nabi.

Di usia sepuluh tahun ini Saya merenungi beberapa hikmah yang bisa diambil dari perjalanan rumah tangga Kami yang Alhamdulillah sampai sejauh ini bisa berjalan dengan baik walaupun ada terpaan ujian, semua bisa dilalui walau terkadang dengan uraian air mata.

Pelajaran pertama yang Saya dapat bahwa ketika kita memutuskan untuk menikah, maka yang utama adalah luruskan niat kita untuk semata-mata mencari keridhoan Allah. Hal ini akan membingkai proses pernikahan Kita dari mulai memilih pasangan, menetapkan cara mendapatkan pasangan sampai dengan mengisi pernikahan tersebut. Banyak yang salah kaprah dan melanggar syariat karena dari awal niatnya tidak suci.

Alhamdulillah Kami bisa mengawali langkah menuju gerbang pernikahan dengan niat baik dan ternyata Kami diberikan kemudahan untuk menempuh jalan yang terbaik. Ketika Saya memutuskan tidak mau mengawali pernikahan dengan pacaran banyak yang mencibir dan menganggap Saya sebagai makhluk orthodox yang sangat ketinggalan zaman, bahkan ada juga yang menganggap Saya frustasi karena belum dapat pacar juga.
Watch and read full article...

Tak ada jalan buntu

Ia pernah jaya dengan usaha jual beli. Tapi ujian menerpanya hingga semua hartanya ludes. Bagaimana ia kembali bangkit?

Hidayatullah.com--Dalam mengarungi samudra kehidupan, menusia laksana sebuah roda. Kadang ia berada di atas, kadang pula ia berada di bawah. Begitu pula dengan kisah hidup Azam, pria asal Bojonegoro, Jawa Timur.

Dikisahkan olehnya, ketika ia dalam masa kejayaan, bukan hanya rumah yang menjadi simbol kekayaannya. Mobil yang berjumlah tiga buah, juga menjadi fasilitas yang melengkapi kemewahan yang ia miliki. Belum lagi hasil dari usaha yang ia geluti, jual beli beras, yang omzetnya mencapai 25 ton per-bulan.

Namun malang tidak bisa dihindari, ketika roda kehidupan bergelinding membawanya ke posisi dasar. Usahanya bangkrut, dan utang bertebaran di sana-sini. Inilah kisahnya yang ditulis dengan bahasa tutur.
Watch and read full article...