LEGENDA CANDI PRAMBANAN

Di dekat kota Yogyakarta terdapat candi Hindu yang paling indah di Indonesia. Candi ini dibangun dalam abad kesembilan Masehi. Karena terletak di desa Prambanan, maka candi ini disebut candi Prambanan tetapi juga terkenal sebagai candi Lara Jonggrang, sebuah nama yang diambil dari legenda Lara Jonggrang dan Bandung Bondowoso. Beginilah ceritanya.

Konon tersebutlah seorang raja yang bernama Prabu Baka. Beliau bertahta di Prambanan. Raja ini seorang raksasa yang menakutkan dan besar kekuasaannya. Meskipun demikian, kalau sudah takdir, akhirnya dia kalah juga dengan Raja Pengging. Prabu Baka meninggal di medan perang. Kemenangan Raja Pengging itu disebabkan karena bantuan orang kuat yang bernama Bondowoso yang juga terkenal sebagai Bandung Bondowoso karena dia mempunyai senjata sakti yang bernama Bandung.

Dengan persetujuan Raja Pengging, Bandung Bondowoso menempati Istana Prambanan. Di sini dia terpesona oleh kecantikan Lara Jonggrang, putri bekas lawannya -- ya, bahkan putri raja yang dibunuhnya. Bagaimanapun juga, dia akan memperistrinya.

Lara Jonggrang takut menolak pinangan itu. Namun demikian, dia tidak akan menerimanya begitu saja. Dia mau kawin dengan Bandung Bondowoso asalkan syarat-syaratnya dipenuhi. Syaratnya ialah supaya dia dibuatkan seribu candi dan dua sumur yang dalam. Semuanya harus selesai dalam waktu semalam. Bandung Bondowoso menyanggupinya, meskipun agak keberatan. Dia minta bantuan ayahnya sendiri, orang sakti yang mempunyai balatentara roh-roh halus.

Pada hari yang ditentukan, Bandung Bondowoso beserta pengikutnya dan roh-roh halus mulai membangun candi yang besar jumlahnya itu. Sangatlah mengherankan cara dan kecepatan mereka bekerja. Sesudah jam empat pagi hanya tinggal lima buah candi yang harus disiapkan. Di samping itu sumurnya pun sudah hampir selesai.

Seluruh penghuni Istana Prambanan menjadi kebingungan karena mereka yakin bahwa semua syarat Lara Jonggrang akan terpenuhi. Apa yang harus diperbuat? Segera gadis-gadis dibangunkan dan disuruh menumbuk padi di lesung serta menaburkan bunga yang harum baunya. Mendengar bunyi lesung dan mencium bau bunga-bungaan yang harum, roh-roh halus menghentikan pekerjaan mereka karena mereka kira hari sudah siang. Pembuatan candi kurang sebuah, tetapi apa hendak dikata, roh halus berhenti mengerjakan tugasnya dan tanpa bantuan mereka tidak mungkin Bandung Bondowoso menyelesaikannya.

Keesokan harinya waktu Bandung Bondowoso mengetahui bahwa usahanya gagal, bukan main marahnya. Dia mengutuk para gadis di sekitar Prambanan -- tidak akan ada orang yang mau memperistri mereka sampai mereka menjadi perawan tua. Sedangkan Lara Jonggrang sendiri dikutuk menjadi arca. Arca tersebut terdapat dalam ruang candi yang besar yang sampai sekarang dinamai candi Lara Jonggrang. Candi-candi yang ada di dekatnya disebut Candi Sewu yang artinya seribu.
Watch and read full article...

Sangkuriang

Pada jaman dahulu, tersebutlah kisah seorang puteri raja di Jawa Barat bernama Dayang Sumbi. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar berburu.

Ia berburu dengan ditemani oleh Tumang, anjing kesayangan istana. Sangkuriang tidak tahu, bahwa anjing itu adalah titisan dewa dan juga bapaknya.


Pada suatu hari Tumang tidak mau mengikuti perintahnya untuk mengejar hewan buruan. Maka anjing tersebut diusirnya ke dalam hutan.

Ketika kembali ke istana, Sangkuriang menceritakan kejadian itu pada ibunya. Bukan main marahnya Dayang Sumbi begitu mendengar cerita itu. Tanpa sengaja ia memukul kepala Sangkuriang dengan sendok nasi yang dipegangnya. Sangkuriang terluka. Ia sangat kecewa dan pergi mengembaraSetelah kejadian itu, Dayang Sumbi sangat menyesali dirinya. Ia selalu berdoa dan sangat tekun bertapa. Pada suatu ketika, para dewa memberinya sebuah hadiah. Ia akan selamanya muda dan memiliki kecantikan abadi.

Setelah bertahun-tahun mengembara, Sangkuriang akhirnya berniat untuk kembali ke tanah airnya. Sesampainya disana, kerajaan itu sudah berubah total. Disana dijumpainya seorang gadis jelita, yang tak lain adalah Dayang Sumbi. Terpesona oleh kecantikan wanita tersebut maka, Sangkuriang melamarnya. Oleh karena pemuda itu sangat tampan, Dayang Sumbi pun sangat terpesona padanya.

Pada suatu hari Sangkuriang minta pamit untuk berburu. Ia minta tolong Dayang Sumbi untuk merapikan ikat kepalanya. Alangkah terkejutnya Dayang Sumbi demi melihat bekas luka di kepala calon suaminya. Luka itu persis seperti luka anaknya yang telah pergi merantau. Setelah lama diperhatikannya, ternyata wajah pemuda itu sangat mirip dengan wajah anaknya. Ia menjadi sangat ketakutan.

Maka kemudian ia mencari daya upaya untuk menggagalkan proses peminangan itu. Ia mengajukan dua buah syarat. Pertama, ia meminta pemuda itu untuk membendung sungai Citarum. Dan kedua, ia minta Sangkuriang untuk membuat sebuah sampan besar untuk menyeberang sungai itu. Kedua syarat itu harus sudah dipenuhi sebelum fajar menyingsing.

Malam itu Sangkuriang melakukan tapa. Dengan kesaktiannya ia mengerahkan mahluk-mahluk gaib untuk membantu menyelesaikan pekerjaan itu. Dayang Sumbi pun diam-diam mengintip pekerjaan tersebut. Begitu pekerjaan itu hampir selesai, Dayang Sumbi memerintahkan pasukannya untuk menggelar kain sutra merah di sebelah timur kota.

Ketika menyaksikan warna memerah di timur kota, Sangkuriang mengira hari sudah menjelang pagi. Ia pun menghentikan pekerjaannya. Ia sangat marah oleh karena itu berarti ia tidak dapat memenuhi syarat yang diminta Dayang Sumbi.

Dengan kekuatannya, ia menjebol bendungan yang dibuatnya. Terjadilah banjir besar melanda seluruh kota. Ia pun kemudian menendang sampan besar yang dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh menjadi sebuah gunung yang bernama "Tangkuban Perahu."
Watch and read full article...

Ciung wanara


Ing padhepokan, Prabu Cilihawan saking Pajajaran kuwantos dhateng Ki Ajar Wilis, saya kathah muridipun, saya ageng wibawane.

Prabu Cilihawan : Patih...
Patih Mangkuprojo : Sendika Gusti
Prabu Cilihawan : Aku susah banget, amergi pertapaan ki Ajar Wilis soyo suwe soyo akeh murid e lan soyo ilang wibawaku
Patih Mangurojo : pripon to Prabu
Prabu Cilihawan : Kowe tak utus, ngajak Dewi Sumekar nekani Ki Ajar Wilis supaya Dewi Sumekar api-api ngandut manggihi Ki Ajar Wilis.
Patih Mangkuprojo laksanaake dawuhe prabu nekani Dewi Sumekar
Patih Mangkuprojo : Dewi...
Dewi Sumekar : wonten nopo Patih?
Patih Mangkuprojo : Dewi Sumekar, kulo dipun utus Prabu Cilihawan ngajak panjenengan uga manggihi Ki Ajar Wilis
Dewi Sumekar : Tapi napa yo?
Patih Mangkuprojo : Kulo mboten ngertos Dewi... kulo niki namun utusan Sang Prabu Cilihawan. Panjenengan kaliyan Prabu Cilihawan diutus api-api ngandut
Dewi Sumekar : Manapa carane Patih?
Patih Mangkuprojo : Caranipun, bokor kencana dipun dhelikaken ing lebet ageman lan dipun tangsuli ing madharanipun
Dewi Sumekar : Inggih kula laksanaake, opo dawuhw sang Prabu. Ayo mangkat menyang pertapaan Ki Ajar Wilis

 
Sawise nemani Dewi Sumekar, Patih Mangkuprojo lan Dewi Sumekar bidal menyang pertapaan Ki Ajar Wilis.
Ing tengah wana, Dewi Sumekar moro-moro wetenge sambat loro.

Dewi Sumekar : Aduch.. aduch...
Patih Mangkuprojo : Wonten menopo Dewi?
Dewi Sumekar : Wetengku panas Patih
Patih Mangkuprojo : Kog saged Dewi?
Dewi Sumekar : Kulo mboten sumerap Patih.
 

Patih Mangkuprojo rumaos runtik penggalihepun sareng bokor badhe kapendhet njebul ical. Dewi Sumekar ngandut saestu.

Patih Mangkuprojo : Loh, Dewi panjenengan ngandut saestu?
Dewi Sumekar : kulo mboten sumerap Patih.
Patih lan Dewi Sumekar dugi ten ing pertapaan Ki Ajar Wilis
Dewi Sumekar : Ki... Ki Ajar Wilis
Ki Ajar Wilis : Wonten nopo Dewi?
Dewi Sumekar : Kulo badhe matur
Ki Ajar Wilis : Matur nopo Dewi?
Dewi Sumekar : Kulo mbobot putrane panjenengan
Ki Ajar Wilis : Lho, kog saged Dewi?
Dewi Sumekar : Pokok e koen kudu tanggung jawab, lek ora gelem bakal tak rujak kerajaanmu
Ki Ajar Wilis : Nuwun sewu patih, jang jangane Dewi Sumekar niku pancen nate dados katremaning penggalih kula, namun ingkang mokal gawe kedadosan niku sanes kula
Patih Mangkuprojo : Lo kepriye karepmu?
Ki Ajar Wilis : Kulo mboten sumerap, Dewi Sumekar ngandut saestu

Sawise ing pertapaan Ki Ajar Wilis, patih Mangkuprojo lan Dewi Sumekar bali ing kraton. Ing kraton patih Mangkuprojo dawuh marang Prabu Cilihawan yen Ki Ajar Wilis mboten poron tanggung jawab mareng Dewi Sumekar lan Dewi Sumekar ngandut saestu.

Patih Mangkuprojo : Prabu?
Prabu Cilihawan : Ono patih?
Patih Mangkuprojo : Saderengipun kula nyuwun pangapunten saktahipun menawi Dewi Sumekar ngandut saestu lan Ki Ajar Wilis mboten poron tanggung jawab marang niku
Prabu Cilihawan : o... pancen kurang ajar Ki Ajar Wilis iku! Patih ayo pimpinan prajurit ngancurne pertapaan Ki Ajar Wilis
Patih Mangkuprojo : inggih kula laksanaaken

Prabu Cilihawan lan patih Mangkuprojo mimpin para prajurit menyang ing pertapaan Ki Ajar Wilis ugo nyedani Ki Ajar Wilis in padepokan.
Prabu Cilihawan : Ki Ajar Wilis.... metu o kowe!
Ki Ajar Wilis : Lho.. lho... ono opo iki Prabu?
Prabu Cilihawan : Prajurit...! ayo rusakno pertapaan Ki Ajar Wilis

Sawise prabu Cilihawan menang, orag ono sisa setitik, kabeh ajur mumur amergo diobrak-abrik karo Prabu Cilihawan lan prajurite.

Sawise perang Dewi Sumekar arep nglairake putra kakung, lha putra kakung iku arep males prabu Cilihawan, tapi Prabu Cilihawan ngerti yen bayi mau arep males, amargo iku Prabu Cilihawan ngutus patih Mangkuprojo meteni putra kakung.

Prabu Cilihawan : He..! patih!
Patih Mangkuprojo : Enten punapa Prabu?
Prabu Cilihawan : Kowe tak utus mateni bayine Dewi Sumekar.
Patih Mangkuprojo : Tapi Prabu?
Prabu Cilihawan : He... rungokno sek tah! Bayi iku arep males aku yen wis gedhe amargo iku kowe tak utus mateni
Patih Mangkuprojo : Inggih Prabu, kula laksanaaken

Ing padepokan patih Mangkuprojo mendet bayine Dewi Sumekar.


Dewi Sumekar : lho patih.. patih nopo bayiku kok dipendet?
Patih Mangkuprojo : Aku diutus Prabu Cilihawan mendhet bayi iki

Bayi mau terus kate dipateni, tapi Patih Patih Mangkuprojo ngesakne. Terus ugo dikinyutake kali.

Ing kali mau ono ki Karawang lan nyi Karawang sing isih ngebar jaring ono ing kali tibo-tibo ki Karawang lan nyi Karawang kaget ono peti ing pinggir kali Karawang.

Ki Karawang : Lho Nyi! Iku opo Nyi?
Nyi Karawang : Lho kok ono peti nang kali yo Ki?
Ki Karawang : Ayo Nyi, didelok opo isine Nyi!
Nyi Karawang : Lho isine kok bayi, iki bayine sopo iki?
Ki Karawang : Lebih baik awak dewe ae sing ngrumat Nyi! Yo opo?
Nyi Karawang : Yo luwes timbang ranok sing ngrumat
Ki Karawang : Enak e diwenehi jeneng opo yo Nyi?
Nyi Karawang : Iyo-yo opo yo?
Ki Karawang : Ciung Wanara ae Nyi! Amarga Ciung iku manuk menco lan Wanara iku kethek-mila

Ciung Wanara didade ake anak angkat ki Karawang lan Nyi Karawang. Ugo wis gedhe Ciung Wanara ngrewangi Bapak angkate ugo dadi pandhe besi.

Sawise Ciung Wanara seksi mandraguna lan wis cukup umur, Bapak angkate Ciung Wanara nyrita ake asal usule Ciung Wanara lan keluargane. Sawise Ciung wis ngerti. Ciung Wanara marani padepokan Pajajaran uga males Prabu Cilihawan.

Ciung Wanara : Prabu Cilihawan! Metuo kowe! Mreneo kowe!
Prabu Cilihawan : Lha.. lha.. patih, patih, patih!
Patih Mangkuprojo : Enten nopo Prabu?
Prabu Cilihawan : Kok bisa bayi iku isih urip Patih?
Prabu Cilihawan : Prajurit.... serang!

Para Prajurit ora bisa ngalahne Ciung Wanara amarga sakti mandraguna. Sawise Ciung Wanara menang perang, Ciung Wanara dadi Raja Ing Pajajaran lan dikenal karo nami Harya Banyak Wede.

-- Cuthel –
Watch and read full article...

MBAH KHOLIL BANGKALAN

Ketika Kholil muda menyantri pada Kiai Noer di pesantren Langitan Tuban. Kholil seperti biasanya ikut jama'ah sholat yang memang keharusan para santri. Di tengah kekhusukan jama'ah sholat, tiba-tiba kholil tertawa terbahak-bahak. Karuan saja, hal ini membuat santri lain marah. Demikian juga dengan Kiai Noer. Dengan kening berkerut, kiai bertanya:

"Kholil, kenapa waktu sholat tadi, kamu tertawa terbahak-bahak. Lupakah kamu itu meengganggu kekhusukan sholat dan sholat kamu tidak syah?!" Kholil menjawab dengan tenang, "Maaf, begini Kiai, waktu sholat tadi saya sedang melihat Kiai sedang mengaduk-aduk nasi di bakul, karena itu saya tertawa. Sholat kok mengaduk-aduk nasi. Salahkah yang saya lihat itu, kiai?" Jawab Kholil muda dengan mantap dan sopan.

Kiai Muhammad Noer terkejut. Kholil benar, Santri baru itu dapat membaca apa yang terlintas di benaknya, Kiai Muhammad Noer duduk dengan tenang sambil menerawang lurus ke depan, serta merta berbicara kepada santri kholil: "Kau benar anakku, saat mengimami sholat tadi perut saya memang sedang lapar. Yang terbayang dalam pikiran saya saat itu, memang hanya nasi, anakku," ucap Kiai Muhammad Noer secara jujur. Sejak kejadian itu kelebihan Kholil akhirnya menyebar. Bukan hanya terbatas di pesantren Langitan, tetapi juga sampai ke pesantren lain di sekitarnya. Karena itu, setiap kiai yang akan ditimba ilmunya oleh Kholil muda, maka para kiai itu selalu mengistimewakannya.


Didatangi Macan

Pada suatu hari di bulan syawal, Kiai Kholil tiba-tiba memanggil santri-santrinya. "Anak-anakku, sejak hari ini kalian harus memperketat penjagaan pondok pesantren. Pintu gerbang harus senantiasa dijaga, sebentar lagi akan ada macan masuk ke pondok ini" kata Kiai Kholil agak serius.

Mendengar tutur guru yang sangat dihormati itu, segera para santri mempersiapkan diri. Waktu itu, sebelah timur Bangkalan memang terdapat hutan-hutan yang cukup lebat dan angker. Hari demi hari, penjagaan semakin diperketat, tetapi macan yang ditunggu-tunggu belum tampak juga. Memasuki minggu ketiga, datanglah ke pesantren seorang pemuda kurus tidak seberapa tinggi bertubuh kuning langsat sambil menenteng kopor seng. Sesampainya di depan pintu rumah Kiai Kholil, lalu mengucap salam "Assalamu'alauikum" ucapnya agak pelan dan sangat sopan.

Mendengar salam itu, bukannya jawaban salam yang diterima, tetapi kiai malah berteriak memanggil santrinya, hei... santri semua, ada macan...macan...ayo kita kepung. Jangan sampai masuk pondok" seru Kiai Kholil bak seorang komandan di medan perang.

Mendengar teriakan Kiai, kontan saja semua santri berhamburan, datang sambil membawa apa saja yang ada, pedang, celurit, tongkat, pacul untuk mengepung pemuda yang baru datang tadi yang mulai nampak pucat. Tidak ada pilihan lagi kecuali lari seribu langkah. Namun karena tekad ingin nyantri ke Kiai Kholil begitu menggelora, maka keesokan harinya pemuda itu mencoba datang lagi. Begitu memasuki pintu gerbang pesantren langsung disong-song dengan usiran ramai-ramai. Demikian juga keesokan harinya, baru pada malam ketiga, pemuda yang pantang mundur ini memasuki pesantren secara diam-diam pada malam hari. Karena lelahnya pemuda itu, yang disertai rasa takut yang mencekam, akhirnya tertidur di bawah kentongan surau.

Secara tidak diduga, tengah malam, Kiai Kholil datang dan membangunkannya, karuan saja dimarahi habis-habisan. Pemuda itu dibawa ke rumah Kiai Kholil, setelah berbasa-basi dengan seribu alasan, baru pemuda itu lega setelah resmi diterima sebagai santri Kiai Kholil. Pemuda itu bernama Abdul Wahab Hasbullah. Seorang kiai yang sangat alim, jagoan berdebat dan pembaharu pemikiran. Kehadiran KH. Wahab Hasbullah dimana-mana selalu berwibawa dan disegani baik kawan maupun lawan bagaikan seekor macan, seperti yang disyaratkan Kiai Kholil.


Membetulkan Arah Kiblat

Kiai Muntaha, mantu Kiai Kholil, yang terkenal alim itu membangun masjid di pesantrennya, dan pembangunan masjid tersebut hampir rampung. Sebagai seorang alim, Kiai Muntaha membangun dengan rencana yang matang sesuai dengan tuntunan syariat. Begitu juga dengan tata letak dan posisi masjid yang tepat mengarah ke kiblat. Menurut Kiai Muntaha, masjid yang hampir rampung itu sudah sedemikian tepat, sehingga tinggal menunggu peresmiannya saja sebagai masjid kebanggaan pesantren.

Suatu hari, masjid yang hampir rampung itu dilihat oleh Kiai Kholil, menurut pandangan Kiai Kholil, ternyata masjid itu terdapat kesalahan dalam posisi kiblat.

"Muntaha, arah kiblat masjidmu ini masih belum tepat, ubahlah!" ucap Kiai Kholil mengingatkan mantunya yang alim itu. Sebagai seorang alim, sebagai kiai alim, Kiai Muntaha tidak percaya begitu saja. Beberapa argumen diajukan kepada Kiai Kholil untuk memperkuat pendiriannya yang selama ini sudah dianggapnya benar, melihat mantunya tidak ada-ada tanda-tanda menerima nasehatnya, Kiai Kholil tersenyum sambil berjalan ke arah masjid. Sementara Kiai Muntaha mengikuti di belakangnya. Sesampainya di ruang pengimaman, Kiai Kholil mengambil kayu kecil kemudian melubangi dinding tembok arah kiblat.

"Muntaha, coba kau lihat lubang ini, bagaimana posisi arah kiblatmu?" panggil Kiai Kholil sambil memperhatikan mantunya bergegas mendekatkan matanya ke lubang itu, betapa kagetnya Kiai Muntaha setelah melihat dinding itu. Tak diduganya, lubang yang kecil itu ternyata Ka'bah yang berada di Makkah dapat dilihat dengan jelas dihadapannya. Kiai Muntaha tidak percaya, digosok-gosokan matanya dan dilihatnya sekali lagi lubang itu, dan ternyata Ka'bah yang di Makkah malah semakin jelas. Maka, sadarlah Kiai Muntaha, ternyata arah kiblat Masjid yang diyakininya benar selama ini terdapat kesalahan. Arah kiblat masjid yang dibangunnya, ternyata terlalu miring ke kanan. Kiai Kholil benar, sejak saat itu, Kiai Muntaha mau mengubah arah kiblat masjidnya sesuai dengan arah yang dilihat dalam lubang tadi.

Kiai Kholil Masuk Penjara

Beberapa pelarian pejuang kemerdekaan dari Jawa bersembunyi di pesantren Kiai Kholil. Kompeni Belanda, rupanya mencium kabar itu. Tentara Belanda berupaya keras untuk menangkap pejuang kemerdekaan yang bersembunyi itu. Rencana penangkapan diupayakan secepat mungkin. Setelah yakin bersembunyi di pesantren, tentara Belanda memasuki pesantren Kiai Kholil. Seluruh pojok pesantren digrebek. Ternyata tidak menemukan apa-apa. Hal itu membuat kompeni marah besar, karena kejengkelannya akhirnya mereka membawa pimpinan pesantren, yaitu Kiai Kholil untuk ditahan. Dengan siasat ini, mereka berharap dengan ditahannya Kiai Kholil, para pejuang segera menyerahkan diri. Ketika Kiai Kholil dimasukkan ke dalam tahanan, maka beberapa peristiwa ganjil mulai muncul. Hal ini membuat susah penjajah Belanda. Mula-mula ketika Kiai Kholil masuk ke dalam tahanan, semua pintu tahanan tidak bisa ditutup. Dengan demikian, pintu tahanan dalam keadaan terbuka terus-menerus. Kompeni Belanda harus berjaga siang dan malam secara terus-menerus. Sebab, jika tidak maka tahanan bisa melarikan diri. Pada hari berikutnya, sejak Kiai Kholil ditahan, ribuan orang dari Madura dan Jawa berdatangan untuk menjenguk dan mengirim makanan ke Kiai Kholil. Kejadian ini membuat kompeni merasa kewalahan mengatur orang sebanyak itu. Silih berganti setiap hari terus-menerus. Akhirnya, kompeni membuat larangan berkunjung ke Kiai Kholil. Pelarangan itu ternyata tidak menyelesaikan masalah. Masyarakat justru datang setiap harinya semakin banyak. Para pengunjung yang bermaksud berkunjung ke Kiai Kholil bergerombol di sekitar rumah tahanan. Bahkan banyak yang minta ditahan bersama Kiai Kholil. Sikap nekad para pengunjung Kiai Kholil ini jelas membuat Belanda makin kewalahan. Kompeni merasa khawatir, kalau dibiarkan berlarut-larut suasana akan semakin parah. Akhirnya, daripada pusing memikirkan hal yang sulit dimengerti oleh akal itu, kompeni Belanda melepaskan Kiai Kholil begitu saja.

Setelah kompeni mengeluarkan Kiai Kholil dari penjara, baru semua kegiatan berjalan sebagaimana biasanya. Demikian juga dengan pintu penjara sudah bisa ditutup kembali serta para pengunjung yang berjubel disekitar penjara kembali pulang kerumahnya masing-masing.

Tongkat Kiai Kholil dan Sumber Mata Air

Pada suatu hari. Kiai Kholil berjalan kearah selatan Bangkalan. Beberapa santri menyertainya. Setelah berjalan cukup jauh, tepatnya sampai di desa Langgundi, tiba-tiba Kiai Kholil menghentikan perjalanannya. Setelah melihat tanah di hadapannya, dengan serta merta Kiai Kholil menancapkan tongkatnya ke tanah. Dari arah lubang bekas tancapan Kiai Kholil, memancar sumber air yang sangat jernih. Semakin lama semakin besar, sumber air tersebut akhirnya menjadi kolam yang bisa dipakai untuk minum dan mandi. Lebih dari itu, sumber mata airnya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Kolam yang bersejarah itu, sampai sekarang masih ada.

Rumah Miring

Pada suatu hari, Kiai Kholil mendapat undangan di pelosok Bangkalan . Hari jadi yang ditentukan pun tiba. Para undangan yang berasal dari berbagai daerah berdatangan. Semua tamu ditempatkan di ruang tamu yang cukup besar.

Walaupun para tamu sudah datang semua, acara nampaknya belum ada tanda-tanda dimulai. Menit demi menit berlalu beberapa orang tampaknya gelisah. Kenapa acara kok belum dimulai. Padahal, menurut jadwal mestinya sudah dimulai. Tuan rumah tampak mondar-mandir, gelisah. Sesekali melihat ke jalan sesekali menunduk. Tampaknya menunggu kehadiran seseorang.

Menunggu acara belum dimulai si fulan tidak sabar lagi. Fulan yang dikenal sebagai jagoan di daerah itu, berdiri lalu berkata :

"Siapa sih yang ditunggu-tunggu kok belum dimulai? Kata si jagoan sambil membentak.

Bersamaan dengan itu datang sebuah dokar, siapa lagi kalau bukan Kiai Kholil yang ditunggu-tunggu.

"Assalamu'alaikum", ucap Kiai Kholil sambil menginjakkan kakinya ke lantai tangga paling bawah rumah besar itu.

Bersamaan dengan injakan kaki Kiai Kholil, gemparlah semua undangan yang hadir. Serta-merta rumah menjadi miring. Para undangan tercekam tidak berani menatap Kiai Kholil. Si fulan yang terkenal jagoan itu ketakutan, nyalinya menjadi kecil melihat kejadian yang selama hidup baru dialami saat itu.

Setelah beberapa saat kejadian itu berlangsung kiai mengangkat kakinya. Seketika itu, rumah yang miring menjadi tegak seperti sedia kala. Maka berhamburanlah para undangan yang menyambut dan menyalami Kiai Kholil.

Akhirnya fulan yang jagoan itu menjadi sadar, bahwa dirinya kalah. Dirinya terlalu sombong sampai begitu meremehkan seorang ulama seperti Kiai Kholil. Fulan lalu menyongsong Kiai Kholil dan meminta maaf. Kiai Kholil memaafkan, bahkan mendoakan. Do'a Kiai Kholil terkabul, Fulan yang dulu seorang jagoan yang ditakuti di daerah itu, akhirnya menjadi seorang yang alim. Bahkan, kini si fulan menjadi panutan masyarakat daerah itu.
Watch and read full article...

SUNAN DRAJAD

Nama asli Sunan Drajad adalah Raden Qosim, beliau adalah putra Sunan Ampel dengan Dewi Candrawati. Beliau berdakwah di Desa Drajad sehingga terkenal dengan sebutan Sunan Drajad.

Suatu ketika Raden Qosim mendapat tugas dari Ayahnya Sunan Ampel untuk berdakwah di sebelah barat Surabaya, kemudian Raden Qosim berangkat dengan baik perahu ke arah barat.

Dalam perjalanan melalui laut itu perahu Raden Qosim diserang badai sehingga perahu Raden Qosim hancur dan kemudian karam. Dalam keadaan kritis Raden Qosim ditolong oleh seekor ikan besar yang disebut dengan nama ikan Talang. Dengan baik punggung ikan tersebut Raden Qosim bisa selamat dan ikan tersebut membawanya ke tepi pantai di Dusun Jelag Kecamatan Paciran. Di tempat itu Raden Qosim mendirikan tempat pesantren baru dan banyak orang berdatangan kepadanya untuk berguru, karena cara berdakwahnya sangat lunak, mampu mendekati banyak orang awam dengan tutur kata dan budi bahasa yang halus, serta sikapnya yang sopan dan ramah tamah.

Setelah satu tahun di Jelag, Raden Qosim mendapat petunjuk dari Allah agar manuju ke Selatan, kira-kira satu kilometer, disana beliau mendirikan Lanngar atau Surau yang dipergunakan untuk berdakwah.

Tiga tahun kemudian Raden Qosim mendapat petunjuk dari Allah agar mencari tempat yang strategis untuk berdakwah yaitu di sebuah bukit yang diberi nama/dinamakan dengan nama “Dalem Duwur”.

Di tempat tersebut sekarang didirikan museum yang cukup megah dengan biayasa ± Rp. 60.000.000,-. Museum tersebut tidak jauh dengan makam Raden Qosim atau Sunan Drajad. Makam beliau terletak di Desa Drajad Kecamatan Pacitan Kabupaten Lamongan.
Watch and read full article...