Selembar uang 5000

Anak dalam gendongan Sri belum diam. Semakin Sri berusaha menenangkannya, tangis anak itu semakin pecah. Sri mulai kuwalahan untuk membujuknya.
“Cup-cup, Nak. Sebentar lagi Bapak datang.” Bujuk Sri sambil menimang-nimang dalam gendongan.
“Mungkin dia lapar, Sri.”
“Mungkin iya, Mbak.”
“Tadi anakmu sudah makan belum ?”
“Belum.”
“Kalau begitu cepat kasih dia makan.”
Sri tersenyum. Menelan ludah yang terasa kian hambar di lidah yang sejak kemarin belum kemasukan makanan. Tawar dan getir adalah hiasan hidupnya.
“Kok malah senyam-senyum. Wong anak sedang rewel kok dibiarkan.”
“Anu, Mbak. Saya belum masak hari ini.” Jawab Sri dengan suara tercekat.
Kening Wati berlipat seketika. Matanya menatap jam dinding yang sedang bergerak menunju angka sepuluh.
“Sampai siang begini belum masak? Kenapa?”
“Ehm… “ Sri agak canggug meneruskan kalimatnya. “Beras kami habis.”
Wati mulai menangkap permasalahan Sri, yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri. Nasibnya dengan Sri tidak jauh berbeda. Hanya saja Wati belum dikaruniai anak meskipun telah menikah hampir lima tahun.
“Kalau habis, kenapa tidak beli Sri?” Pancing Wati.
Watch and read full article...

Balada Sebuah Tugas Statistik

Brakk!!…
Pintu terbuka dengan keras. Sepi. Tak ada siapa-siapa di dalam. Pasti, sebab, penghuni lain sibuk dengan aktivitas di tempat kerja masing-masing. Termasuk dia, kalau saja dia tidak teringat satu hal. Sungguh dia menyesal kenapa tidak menuruti nasihat orang-orang di sekitarnya. Ah, seandainya aku memasang alarm di ponselku. Seandainya aku menuliskan di papan. Seandainya aku…
Oh, mengapa aku mesti menjadi orang pelupa? Bukankah aku masih muda? Apa memang memori otakku terbatas? Aku ingat, otak punya memori yang sangat besar. Setidaknya, aku masih ingat beberapa hal yang aku lakukan di waktu kecil. Artinya, aku masih mampu merekam dengan baik kejadian 15 tahun lalu. Bukankah itu hebat. Tapi, mengapa aku lupa dengan semua tugas yang baru diberikan seminggu lalu? Orang bilang semua itu karena keteledoranku. Benarkah aku teledor?
Brak!!…
Watch and read full article...

Mendua dalam Tiada

"Mendua dalam tiada"

teruntuk : nabi dalam baris-baris kode
teruntuk : agama dalam rasa dan makna
tanah kelahiran kupijak kembali saat ini
menemukan ragaku pulang ke sebuah rumah
namun tidak, untuk jiwanya
semesta raya luas tak berbatas
ruang hampa menganga, tanpa suara
jika demikian adanya, kan kucari lewat cahaya
apa yang ia cari, tak pernah ia ketahui
hingga kapan ia kan mencari, tak pernah ia sadari
tak pernah menguar dalam angan silamnya, untuk mencari
teruntuk : nabi dalam baris-baris kode
teruntuk : agama dalam rasa dan makna
secercah cahaya menyeruak, menerangi jalanku
aku melihat cahaya, dalam lorong-lorong waktu
ia menemukan (semacam) nabi yang menuntunnya
ia menemukan (semacam) agama yang membimbingnya
dan perasaan cinta melapar dalam raga
pada hidup yang ajaib, dan ia yang menghadirkan keajaiban
meski pencarian belum jua usai
untuk jiwa yang mencari tempatnya pulang
gambir-kejaksan, 22 november 2009
Watch and read full article...

Pagi-pagi Denpasar

"Pagi-pagi Denpasar"

Sepanjang jam air
Sepanjang jam pasir

Di sungai – sungainya yang malam

Denpasar mencapaiku dari pasar pagi


Di sungai – sungainya yang malam

Perempuan – perempuan menjajakan subuh

Matanya dipenuhi bunga palawija

Kembang bawah tanah

Yang tak pernah disunting tubuh


Sepanjang jam air, sepanjang jam pasir

Perempuan itu menempuh pagi

Menumpahkan seluruh isi susunya

Perempuan yang telah melampaui akilbaliq itu

Juga menemukan aku


Mari saya ceeritakan sejarah pasar, tawaranya

Kisah yang dimulai dari hujan dan

Burung yang belajar terbang dengan sayap terluka

Hujan yang mendinginkan burung – burung kudus

Dengan sangat api yang tumbuh dari kening kupu – kupu
Watch and read full article...

Persahabatan

Dan seorang remaja berkata, Bicaralah pada kami tentang Persahabatan.
Dan dia menjawab:
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Kerana kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa mahu kedamaian.
Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya, kau tiada takut membisikkan kata "Tidak" di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata "Ya".
Dan bilamana dia diam,hatimu berhenti dari mendengar hatinya; kerana tanpa ungkapan kata, dalam persahabatan, segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan dikongsi, dengan kegembiraan tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat, tiadalah kau berdukacita;
Kerana yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin kau nampak lebih jelas dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.
Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.
Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah cinta , tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.
Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu jika kau sentiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Kerana dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria dan berkongsi kegembiraan..
Karena dalam titisan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan.
Watch and read full article...